Pagi hari matahari begitu lembut memancarkan sinarnya disekitar kaki gunung Salak. Siraman air hujan bercampur embun pagi mulai menguap dari rerumputan di halaman . Langit berwarna biru cerah menggambarkan kesejukan dan harapan tentang kehidupan yang lebih baik hari ini.

Digarasi yang terletak di samping rumah terlihat Akhdan sedang sibuk memeriksa Jeep Hurricane nya. Maklum terakhir ia menggunakan kendaraan ini sekitar setahun lalu saat ia berlibur untuk berlebaran. Hari ini ia berencana untuk menemui Cleon dan memberitahukan kabar baik tentang persetujuan kedua orang tuanya tentang rencana proyek mereka. Tapi ia tidak terlalu yakin dengan kesiapan Jeep nya, sebab itu sejak sedari pagi tadi ia sudah menyibukkan dirinya di Garasi.


Selain sebuah Jeep Hurricane yang sering ditumpanginya, sebuah Hummer-H3T milik papanya terparkir disebelahnya. Sedangkan sedan Mazda Senku milik mamanya tidak terlihat. Saat ini papa dan mama Akhdan memang sudah berangkat sejak sekitar pukul 06 pagi tadi karena ada keperluan menemui relasi keduanya di Jakarta, meninggalkan Akhdan sendirian di rumah.
Tengah asyik ia mengutak-atik mesin Jeepnya, Akhdan mendengar deru mesin kendaraan yang semakin mendekati kearahnya. Tak lama berselang terlihat sebuah Jeep jenis GMC Graphity memasuki halaman rumahnya. Akhdan mengenali mobil itu adalah milik Cleon. Akhdan segera menghentikan kegiatannya. Dicopotnya kedua sarung tangan berlumuran oli. Ia berdiri didepan Jeep menunggu sampai Cleon mendekat.

Mobil yang dikemudikan Cleon semakin mendekat. Dari kemudi mobil Cleon melihat Akhdan berdiri di Garasi, sebab itu ia tidak memarkir kendaraannya di halaman rumah tapi langsung belok ke kanan ke arah dimana Akhdan berada. Setelah cukup dekat, ia segera menghentikan kendaraannya. Jendela kaca disebelah kanan nya terbuka otomatis, saat ia mennyentuh sebuah tombol dipintu mobil. Dikeluarkan kepalanya dengan gaya yang lucu ia menggeleng-gelengkan kepalanya kea rah Akhdan.
Akhdan menahan diri untuk berteriak, saat ia melihat Cleon tidak datang sendiri tapi ditemani seorang wanita disampingnya, kelihatannya Indah. Ditunggunya sampai Cleon dan temannya keluar dari kendaraan.
“Ae bro…yah pantesan gue telponin dari tadi kagak diangkat.., disini lo rupanya..” Cleon menyapa Akhdan sesaat setelah turun dari kendaraan, dan melepaskan pegangan pintu yang secara otomatis menutup kembali.
Sementara teman wanita Cleon yang ikut bersamanya juga bersamaan turun dan menyapanya. “Hi…Dan, gie ngapain sih kayaknya pagi-pagi dah sibuk banget..?”
Benar perkiraan akhdan rupanya wanita yang datang bersama Cleon adalah Indah.
“Wah…sory man, gue gak denger telpon bunyi abis gue tinggal di dalem” “Gue pikir gak mungkin ada telpon pagi-pagi gini kale..” “Eh…sory juga ya Ndah…, aku pikir siapa tadi….yah sibuk sih nggak, Cuma aku lagi ngecek mobil aja..abis dah lama gak dipake nih..” Akhdan menjawab sapaan keduanya.
“Tadinya abis beres ini, justru gue baru mo telpon elo Cle…, trus gue mo langsung ke rumah elo..” lanjutnya lagi.
“Gue juga pagi tadi sih masih enak merem…, eh jam tujuh tadi nona cantik ini udah nongol di rumah .., ya udah…lo gue telpon kagak jawab..gue bawa aja die kesini.., dari pada gue ribet..” Cleon lagi-lagi menjawab sekenanya.
“Ah kamu ngarang aja Cle….” Indah yang dibilang nona cantik nyeletuk jengah. Tanpa disadari pipinya sedikit memerah.
Rupanya perubahan pipi Indah itu sempat tertangkap mata Cleon.
“Ngarang gimana…?, tuh pipi lo jadi merah berarti seneng kan lo gue bilang cantik ha ha ha..” Cleon malah seperti dapat bahan.
Indah terlihat salah tingkah, untung Akhdan segera tanggap dan memotong pembicaraan keduanya.
“Udah ah…enakan masuk dulu yuk.., kita ngobrol di dalam aja deh…ada yang musti gue omongin juga..” Kata Akhdan sambil mengajak keduanya berjalan kearah rumah.
“Sory bro..gue rada gerah neh…, nggak papa kan kalo kita ngobrolnya di teras aja yah, lo duluan deh siapin minum kek apa kek..gue aus neh..” Celetuk Cleon.
“Ya udah gue kedalem dulu ya…minum apa aja nggak papa kan..?” Tanya Akhdan
“Iya Dan…, apa aja deh…aku sama Cleon tunggu di teras aja yah” Indah menjawab pertanyaan Akhdan cepat, mendahului Cleon yang terlihat garuk-garuk kepala. Indah tau kalo tak segera ia yang menjawab pasti Cleon mintanya macam-macam.
Akhdan segera berlalu ke dalam rumah, sedang Cleon dan Indah menuju arah belakang rumah. Cleon sepertinya sudah hapal betul letak teras rumah akhdan yang dia maksud.
Teras belakang rumah Akhdan terlihat tidak terlalu besar, hanya saja pemandangan dibelakangnya memang terlihat sangat indah karena langsung menghadap kearah gunung Salak yang menjulang. Saat ini langit begitu biru cerah semakin membuat pemandangan sangat asri dipadu dengan beberapa bunga yang bermekaran disekitar taman rumah Akhdan.

Indah begitu terpesona melihat pemandangan di teras rumah akhdan. Sampai-sampai ia tidak memperhatikan bahwa Cleon sudah sejak tadi duduk di kursi teras yang tersedia dan memanggilnya dua kali. Akhirnya ia tersadar.
“Iya..Cle sebentar, gile..bagus banget yah disini..nggak nyangka gue….” Katanya sambil menghampiri Cleon dan duduk dikursi sebelahnya sambil tetap pandangannya di arahkan ke gunung Salak yang mempesona.
Tak berapa lama Akhdan datang dari pintu belakang di samping teras. Ditangannya terlihat tiga buah botol orange juice dan beberapa makanan ringan dalam kemasan.
“Sory Cle.., adanya ini doank gue gak tau nyokap nyimpen dimana.” “Cuma ini doank yang ada di kulkas…gak pa pa ya…”
“Siip lah, siniin deh gue aus banget neh..tadi mo ngopi aja gak sempet.., gak papa deh…” Cleon menjawab sambil berdiri dan menyongsong minuman yang ada di tangan akhdan, kemudian ia duduk kembali.
“Emang mami dan papi kamu kemana Dan..?” Tanya Indah. Pantas pikirnya dari tadi kelihatannya tidak ada siapa-siapa lagi.
“Lagi ke Jakarta biasa deh ada urusan bisnis…” jawab Akhdan, sambil menyerahkan sebotol minuman ke Indah lalu ia duduk di samping kiri Cleon.
“Eh Ndah..kamu kok, pagi-pagi banget dah ada di Bogor..?, memang ada rencana ke Bogor apa memang sengaja mo ketemu Cleon..” Tanya Akhdan ke Indah.
“Sebenarnya sih nggak ada rencana ke Bogor Dan…, Cuma tadi malam papa aku nanyain lagi tentang keseriusan proyek yang tempo hari kita bicarakan, karena kalau memang mau kita jalankan paling nggak hari senen besok draft rancangan rencana proyek itu paling nggak sudah harus kita bicarakan sama papa aku.” Indah menarik nafas sejenak untuk mengatur kata-katanya.
“Masalahnya aku kan belom dapat khabar dari Cleon dan kamu Dan…,kupikir juga terlalu mendadak sih…”. “Cuma memang kalo sudah ada gambaran gimana-gimananya dari Cleon dan kamu…, papa bisa langsung mencadangkan beberapa lokasi yang akan digunakan untuk proyek kita itu agar tidak dimasukkan ke rancangan proyek Real Estate papa yang lain agar gak kecampur..”
“Tadi malam aku mo telpon Cleon sama kamu.., Cuma kupikir pasti kalian masih capek lah jadi aku coba telpon kalian berdua tadi pagi sekitar jam 6 lebih lah…, eh nggak ada yang angkat juga” “Ya udah aku langsung ke Bogor aja, nyampe di rumah Cleon..wah kalo nggak aku kagetin gak bangun dia..tidurnya kayak orang mati ..ha ha ha” Indah tertawa geli mengingat cara dia mengagetkan Cleon tadi pagi.
“Gitu deh kelakuan si Indah Dan.., gue lagi enak tidur..dia maen masuk kamar gue aja terus make teriak kenceng banget di telinga gue..gue sampe loncat huu sialan lo Ndah..emang” Cleon merajuk. “Eh..lo dah sempet ngomong blom ama Ortu lo tentang proyek ini..?” Tanya Cleon.
Mendengar cerita Indah, ada rasa bersalah juga bagi Akhdan. Sebenarnya kalau mau ia sudah bisa memberi khabar kepada Cleon tadi malam mengenai persetujuan Ortunya. Tapi rasa jailnya untuk mengerjai Cleon agar penasaran membuatnya menunda untuk menghubungi Cleon. Akhdan tak menyangka bahwa ternyata imbasnya sampai ke Indah juga.
“Waduh…sorry banget neh buat kalian berdua.., gue blom sempet khabarin.” “Sebenarnya gue dah discus sama kedua ortu gue, cuma tadi malem gue gak buru-buru ngabarin gue pikir siang ini baru gue mau nemuin kalian…Cuma dah keduluan nih”
“Intinya sih kedua ortu gue setuju banget mengenai proyek kita ini, Cuma emang kalo bisa bisnis pertanian sama peternakan papa sekarang juga tetep bisa gue kelola bareng dengan cara merubahnya menjadi pendukung proyek kita nanti…, gitu deh ..”
“Waah…syukur deh kalo gitu Dan..” Indah tak mampu menahan rasa senangnya. “Aku pikir sih ide papa kamu bagus banget, jadi untuk pendukung pertanian dan peternakannya kan kita gak usah repot buat lagi…tinggal menyesuaikan aja ya nggak Cle..” Lanjut Indah.
“Iya..ya, bener juga babe lo Dan…di satu sisi proyek kita tetep jalan, disisi lain pertanian sama peternakan babe lo kan tetep bisa diterusin..ha ha ha….asyiiik jadi dah proyek kita neh…” Cleon juga tak mampu menahan kegirangannya. Karena tadinya ia berfikir masalah bisnis papanya Akhdan ini tidak mudah juga untuk memecahkannya. Masalahnya karena hanya Akhdan lah yang diharapkan untuk meneruskan bisnis keluarga ini.
“Dan lo punya waktu nggak kalo hari ini kita ke Jakarta…, gue mo kenalin lo sama Papi aku…biar kita bisa langsung discus..?” Tanya Indah ke Akhdan.
“Aku siap aja sih Ndah..Cuma enaknya abis jumatan aja kali yah, kita makan siang dulu aja di Bogor terus langsung ke Jakarta ya nggak Cle..?” akhdan mengalihkan pertanyaan ke Cleon.
“Iya juga sih..berarti dari sini kita kerumah gue dulu donk.., mobilnya Indah kan ada dirumah gue..” Jawab Cleon
“Nggak perlu deh..” Indah memotong. “Dari sini kita langsung ke Bogor aja, trus habis Akhdan sholat jumat, kita makan di Bogor abis itu langsung ke Jakarta aja..” Aku pikir mobil aku biar tinggal ditempat kamu aja deh Cle nggak papa kok, kan ntar lo juga sering ketemu ke Jakarta..”
“Eh…papi sama mami lo pulangnya jam berapa Dan..?” Tanya Indah ke Akhdan
“Wah mereka sih pasti bisa sore bisa malem..tapi baiknya nggak usah kita tunggu lah pasti lama..” Jawab Akhdan
“Ooh…tadinya aku pengen knal juga sama kedua orang tua kamu, kan aku blom pernah tau ……” Lanjut Indah lagi.
“Iya tuh Dan…., namanya juga calon menantu masa nggak kenalan sama calon mertua HA HA HA..” Cleon tiba-tiba saja menggoda Indah. Kelihatannya Cleon bisa menebak kalo sebenarnya ada yang dirasakan lain oleh Indah ke Akhdan. Namanya juga sahabat ada sedikit perubahan saja pasti ia bisa mengetahuinya.
“Apaan sih lo Cle norak deh…” Indah terkejut dan sedikit tersipu.
Akhdan pura-pura tak memperhatikan. Ia menganggap wajar saja namanya juga Cleon.
“Kalo gitu kita kedalam aja dulu yuk Ndah..Cle…, foto papi dan mami aku banyak kok didalam kamu bisa lihat Ndah…, sementara aku ganti baju dulu yah….” Akhdan berkata biasa saja seolah tak ada apa-apa.
Mereka bertiga masuk kedalam rumah Akhdan. Didalam ruang keluarga mata Indah langsung terpaku kepada figura foto yang bergerak-gerak dan tergantung di dinding. Sedang Cleon langsung merebahkan diri disofa. Sementara Akhdan pergi kekamar tidurnya untuk mengganti baju montir yang sejak pagi dikenakannya, dan bersiap untuk menggantinya dengan baju yang lebih rapih karena ia tidak ingin terlihat kusam saat ia menghadapi papanya Indah nanti.
Bersambung…

















