Popular Posts

Recent Posts

Popular News [ View all Popular News ]

Latest Updates

Saturday, April 11, 2009

Di Teras Belakang Rumah 008

0 comments
Pukul 08.00. Jumat, 27 Januari 2090.

Pagi hari matahari begitu lembut memancarkan sinarnya disekitar kaki gunung Salak. Siraman air hujan bercampur embun pagi mulai menguap dari rerumputan di halaman . Langit berwarna biru cerah menggambarkan kesejukan dan harapan tentang kehidupan yang lebih baik hari ini.



Digarasi yang terletak di samping rumah terlihat Akhdan sedang sibuk memeriksa Jeep Hurricane nya. Maklum terakhir ia menggunakan kendaraan ini sekitar setahun lalu saat ia berlibur untuk berlebaran. Hari ini ia berencana untuk menemui Cleon dan memberitahukan kabar baik tentang persetujuan kedua orang tuanya tentang rencana proyek mereka. Tapi ia tidak terlalu yakin dengan kesiapan Jeep nya, sebab itu sejak sedari pagi tadi ia sudah menyibukkan dirinya di Garasi.





Selain sebuah Jeep Hurricane yang sering ditumpanginya, sebuah Hummer-H3T milik papanya terparkir disebelahnya. Sedangkan sedan Mazda Senku milik mamanya tidak terlihat. Saat ini papa dan mama Akhdan memang sudah berangkat sejak sekitar pukul 06 pagi tadi karena ada keperluan menemui relasi keduanya di Jakarta, meninggalkan Akhdan sendirian di rumah.

Tengah asyik ia mengutak-atik mesin Jeepnya, Akhdan mendengar deru mesin kendaraan yang semakin mendekati kearahnya. Tak lama berselang terlihat sebuah Jeep jenis GMC Graphity memasuki halaman rumahnya. Akhdan mengenali mobil itu adalah milik Cleon. Akhdan segera menghentikan kegiatannya. Dicopotnya kedua sarung tangan berlumuran oli. Ia berdiri didepan Jeep menunggu sampai Cleon mendekat.



Mobil yang dikemudikan Cleon semakin mendekat. Dari kemudi mobil Cleon melihat Akhdan berdiri di Garasi, sebab itu ia tidak memarkir kendaraannya di halaman rumah tapi langsung belok ke kanan ke arah dimana Akhdan berada. Setelah cukup dekat, ia segera menghentikan kendaraannya. Jendela kaca disebelah kanan nya terbuka otomatis, saat ia mennyentuh sebuah tombol dipintu mobil. Dikeluarkan kepalanya dengan gaya yang lucu ia menggeleng-gelengkan kepalanya kea rah Akhdan.

Akhdan menahan diri untuk berteriak, saat ia melihat Cleon tidak datang sendiri tapi ditemani seorang wanita disampingnya, kelihatannya Indah. Ditunggunya sampai Cleon dan temannya keluar dari kendaraan.

Ae bro…yah pantesan gue telponin dari tadi kagak diangkat.., disini lo rupanya..” Cleon menyapa Akhdan sesaat setelah turun dari kendaraan, dan melepaskan pegangan pintu yang secara otomatis menutup kembali.

Sementara teman wanita Cleon yang ikut bersamanya juga bersamaan turun dan menyapanya.
“Hi…Dan, gie ngapain sih kayaknya pagi-pagi dah sibuk banget..?”

Benar perkiraan akhdan rupanya wanita yang datang bersama Cleon adalah Indah.

Wah…sory man, gue gak denger telpon bunyi abis gue tinggal di dalem” “Gue pikir gak mungkin ada telpon pagi-pagi gini kale..” “Eh…sory juga ya Ndah…, aku pikir siapa tadi….yah sibuk sih nggak, Cuma aku lagi ngecek mobil aja..abis dah lama gak dipake nih..” Akhdan menjawab sapaan keduanya.

Tadinya abis beres ini, justru gue baru mo telpon elo Cle…, trus gue mo langsung ke rumah elo..” lanjutnya lagi.

Gue juga pagi tadi sih masih enak merem…, eh jam tujuh tadi nona cantik ini udah nongol di rumah .., ya udah…lo gue telpon kagak jawab..gue bawa aja die kesini.., dari pada gue ribet..” Cleon lagi-lagi menjawab sekenanya.

Ah kamu ngarang aja Cle….” Indah yang dibilang nona cantik nyeletuk jengah. Tanpa disadari pipinya sedikit memerah.

Rupanya perubahan pipi Indah itu sempat tertangkap mata Cleon.

Ngarang gimana…?, tuh pipi lo jadi merah berarti seneng kan lo gue bilang cantik ha ha ha..” Cleon malah seperti dapat bahan.

Indah terlihat salah tingkah, untung Akhdan segera tanggap dan memotong pembicaraan keduanya.

Udah ah…enakan masuk dulu yuk.., kita ngobrol di dalam aja deh…ada yang musti gue omongin juga..” Kata Akhdan sambil mengajak keduanya berjalan kearah rumah.

Sory bro..gue rada gerah neh…, nggak papa kan kalo kita ngobrolnya di teras aja yah, lo duluan deh siapin minum kek apa kek..gue aus neh..” Celetuk Cleon.

Ya udah gue kedalem dulu ya…minum apa aja nggak papa kan..?” Tanya Akhdan

Iya Dan…, apa aja deh…aku sama Cleon tunggu di teras aja yah” Indah menjawab pertanyaan Akhdan cepat, mendahului Cleon yang terlihat garuk-garuk kepala. Indah tau kalo tak segera ia yang menjawab pasti Cleon mintanya macam-macam.

Akhdan segera berlalu ke dalam rumah, sedang Cleon dan Indah menuju arah belakang rumah. Cleon sepertinya sudah hapal betul letak teras rumah akhdan yang dia maksud.

Teras belakang rumah Akhdan terlihat tidak terlalu besar, hanya saja pemandangan dibelakangnya memang terlihat sangat indah karena langsung menghadap kearah gunung Salak yang menjulang. Saat ini langit begitu biru cerah semakin membuat pemandangan sangat asri dipadu dengan beberapa bunga yang bermekaran disekitar taman rumah Akhdan.



Indah begitu terpesona melihat pemandangan di teras rumah akhdan. Sampai-sampai ia tidak memperhatikan bahwa Cleon sudah sejak tadi duduk di kursi teras yang tersedia dan memanggilnya dua kali. Akhirnya ia tersadar.

Iya..Cle sebentar, gile..bagus banget yah disini..nggak nyangka gue….” Katanya sambil menghampiri Cleon dan duduk dikursi sebelahnya sambil tetap pandangannya di arahkan ke gunung Salak yang mempesona.

Tak berapa lama Akhdan datang dari pintu belakang di samping teras. Ditangannya terlihat tiga buah botol orange juice dan beberapa makanan ringan dalam kemasan.

Sory Cle.., adanya ini doank gue gak tau nyokap nyimpen dimana.” “Cuma ini doank yang ada di kulkas…gak pa pa ya…”

Siip lah, siniin deh gue aus banget neh..tadi mo ngopi aja gak sempet.., gak papa deh…” Cleon menjawab sambil berdiri dan menyongsong minuman yang ada di tangan akhdan, kemudian ia duduk kembali.

Emang mami dan papi kamu kemana Dan..?” Tanya Indah. Pantas pikirnya dari tadi kelihatannya tidak ada siapa-siapa lagi.

Lagi ke Jakarta biasa deh ada urusan bisnis…” jawab Akhdan, sambil menyerahkan sebotol minuman ke Indah lalu ia duduk di samping kiri Cleon.

Eh Ndah..kamu kok, pagi-pagi banget dah ada di Bogor..?, memang ada rencana ke Bogor apa memang sengaja mo ketemu Cleon..” Tanya Akhdan ke Indah.

Sebenarnya sih nggak ada rencana ke Bogor Dan…, Cuma tadi malam papa aku nanyain lagi tentang keseriusan proyek yang tempo hari kita bicarakan, karena kalau memang mau kita jalankan paling nggak hari senen besok draft rancangan rencana proyek itu paling nggak sudah harus kita bicarakan sama papa aku.” Indah menarik nafas sejenak untuk mengatur kata-katanya.

Masalahnya aku kan belom dapat khabar dari Cleon dan kamu Dan…,kupikir juga terlalu mendadak sih…”. “Cuma memang kalo sudah ada gambaran gimana-gimananya dari Cleon dan kamu…, papa bisa langsung mencadangkan beberapa lokasi yang akan digunakan untuk proyek kita itu agar tidak dimasukkan ke rancangan proyek Real Estate papa yang lain agar gak kecampur..”

Tadi malam aku mo telpon Cleon sama kamu.., Cuma kupikir pasti kalian masih capek lah jadi aku coba telpon kalian berdua tadi pagi sekitar jam 6 lebih lah…, eh nggak ada yang angkat juga” “Ya udah aku langsung ke Bogor aja, nyampe di rumah Cleon..wah kalo nggak aku kagetin gak bangun dia..tidurnya kayak orang mati ..ha ha ha” Indah tertawa geli mengingat cara dia mengagetkan Cleon tadi pagi.

Gitu deh kelakuan si Indah Dan.., gue lagi enak tidur..dia maen masuk kamar gue aja terus make teriak kenceng banget di telinga gue..gue sampe loncat huu sialan lo Ndah..emang” Cleon merajuk. “Eh..lo dah sempet ngomong blom ama Ortu lo tentang proyek ini..?” Tanya Cleon.

Mendengar cerita Indah, ada rasa bersalah juga bagi Akhdan. Sebenarnya kalau mau ia sudah bisa memberi khabar kepada Cleon tadi malam mengenai persetujuan Ortunya. Tapi rasa jailnya untuk mengerjai Cleon agar penasaran membuatnya menunda untuk menghubungi Cleon. Akhdan tak menyangka bahwa ternyata imbasnya sampai ke Indah juga.

Waduh…sorry banget neh buat kalian berdua.., gue blom sempet khabarin.” “Sebenarnya gue dah discus sama kedua ortu gue, cuma tadi malem gue gak buru-buru ngabarin gue pikir siang ini baru gue mau nemuin kalian…Cuma dah keduluan nih”

Intinya sih kedua ortu gue setuju banget mengenai proyek kita ini, Cuma emang kalo bisa bisnis pertanian sama peternakan papa sekarang juga tetep bisa gue kelola bareng dengan cara merubahnya menjadi pendukung proyek kita nanti…, gitu deh ..”

Waah…syukur deh kalo gitu Dan..” Indah tak mampu menahan rasa senangnya. “Aku pikir sih ide papa kamu bagus banget, jadi untuk pendukung pertanian dan peternakannya kan kita gak usah repot buat lagi…tinggal menyesuaikan aja ya nggak Cle..” Lanjut Indah.

Iya..ya, bener juga babe lo Dan…di satu sisi proyek kita tetep jalan, disisi lain pertanian sama peternakan babe lo kan tetep bisa diterusin..ha ha ha….asyiiik jadi dah proyek kita neh…” Cleon juga tak mampu menahan kegirangannya. Karena tadinya ia berfikir masalah bisnis papanya Akhdan ini tidak mudah juga untuk memecahkannya. Masalahnya karena hanya Akhdan lah yang diharapkan untuk meneruskan bisnis keluarga ini.

Dan lo punya waktu nggak kalo hari ini kita ke Jakarta…, gue mo kenalin lo sama Papi aku…biar kita bisa langsung discus..?” Tanya Indah ke Akhdan.

Aku siap aja sih Ndah..Cuma enaknya abis jumatan aja kali yah, kita makan siang dulu aja di Bogor terus langsung ke Jakarta ya nggak Cle..?” akhdan mengalihkan pertanyaan ke Cleon.

Iya juga sih..berarti dari sini kita kerumah gue dulu donk.., mobilnya Indah kan ada dirumah gue..” Jawab Cleon

Nggak perlu deh..” Indah memotong. “Dari sini kita langsung ke Bogor aja, trus habis Akhdan sholat jumat, kita makan di Bogor abis itu langsung ke Jakarta aja..” Aku pikir mobil aku biar tinggal ditempat kamu aja deh Cle nggak papa kok, kan ntar lo juga sering ketemu ke Jakarta..”

Eh…papi sama mami lo pulangnya jam berapa Dan..?” Tanya Indah ke Akhdan

Wah mereka sih pasti bisa sore bisa malem..tapi baiknya nggak usah kita tunggu lah pasti lama..” Jawab Akhdan

Ooh…tadinya aku pengen knal juga sama kedua orang tua kamu, kan aku blom pernah tau ……” Lanjut Indah lagi.

Iya tuh Dan…., namanya juga calon menantu masa nggak kenalan sama calon mertua HA HA HA..” Cleon tiba-tiba saja menggoda Indah. Kelihatannya Cleon bisa menebak kalo sebenarnya ada yang dirasakan lain oleh Indah ke Akhdan. Namanya juga sahabat ada sedikit perubahan saja pasti ia bisa mengetahuinya.

Apaan sih lo Cle norak deh…” Indah terkejut dan sedikit tersipu.

Akhdan pura-pura tak memperhatikan. Ia menganggap wajar saja namanya juga Cleon.

Kalo gitu kita kedalam aja dulu yuk Ndah..Cle…, foto papi dan mami aku banyak kok didalam kamu bisa lihat Ndah…, sementara aku ganti baju dulu yah….” Akhdan berkata biasa saja seolah tak ada apa-apa.

Mereka bertiga masuk kedalam rumah Akhdan. Didalam ruang keluarga mata Indah langsung terpaku kepada figura foto yang bergerak-gerak dan tergantung di dinding. Sedang Cleon langsung merebahkan diri disofa. Sementara Akhdan pergi kekamar tidurnya untuk mengganti baju montir yang sejak pagi dikenakannya, dan bersiap untuk menggantinya dengan baju yang lebih rapih karena ia tidak ingin terlihat kusam saat ia menghadapi papanya Indah nanti.


Bersambung…

Monday, March 30, 2009

Saatnya Akhdan Bicara 007

0 comments


Pukul 18.30. Kamis, 26 Januari 2090.
Baru setengah jam yang lalu Matahari merebahkan diri di kaki langit. Namun malam begitu pekat berselimut mega. Rerumputan dihalaman rumah yang sedari sore hari menari kekiri dan kekanan dipermainkan angin kaki gunung Salak, kini tertunduk menahan rintik-rintik hujan yang turun bagaikan prajurit malam yang datang membasuh Bumi.

Akhdan beranjak dari sejadah yang baru saja digunakan alas sholat maghribnya, saat ia melihat sekelebat cahaya petir mencambuk Bumi dari balik jendela kaca kamar tidurnya. Tak lama berselang, suara guntur menggelegar seperti memberi aba-aba kepada jatuhnya butiran air hujan yang semakin lebat.


Kilatan petir tak lagi menarik perhatiannya, matanya menatap ke langit-langit kamar yang menimbulkan suara berderak panjang beradunya air hujan dengan genting di atap rumahnya. Hmmh…hujan pasti deras pikirnya sekilas. Kosentrasinya terganggu suara ketukan di pintu kamarnya yang terbuka perlahan .

Dan…, sudah selesai sholatnya ?” “Sebaiknya kamu ke ruang makan gih…, papa menunggumu tuh..”

Sudah ma.., aku tinggal ganti sarung ini aja kok, sebentar aku ke ruang makan ya ma…”

Mamanya tersenyum dan kembali menutup pintu kamar itu. Akhdan bergegas menanggalkan sarung yang dikenakannya, melipat dan menaruhnya diatas tempat tidur. Diraihnya celana panjang yang ada di tempat tidur, mengenakannya kemudian segera menghampiri pintu kamarnya.



Tak berapa lama kemudian ia sudah berada di ruang makan. Akhdan melihat papa dan mamanya sudah duduk terlebih dahulu di kursi meja makan dan saling berdampingan. Akhdan menuju ke seberang meja makan dan menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.

Meski hujan cukup deras di luar, tapi suasana di ruang makan terasa begitu hangat. Kehangatan itu datang dari sebuah tungku perapian elektronik yang berada tak berapa jauh disebelah kiri meja makan dimana mereka berada.

Dan, kamu tau..” “Hari ini sudah sejak pagi tadi mamamu sibuk luar biasa menyiapkan menu istimewa buat menyambut kepulangan kamu..” Pak Putera papanya Akhdan memulai perbincangan.

Coba kamu lihat yang tersaji ini semuanya adalah menu kesukaan kamu, papa mau intervensi menu papa aja seharian ini sudah kena damprat mamamu dua kali..” Lanjut papanya lagi.

Aaah sudah..sudah, papa ini nggak lihat apa anaknya sudah kelaparan malah curhat…, hayo akh makan dulu ..” “ Nah sini mama duluin buat kamu ya Dan…”

Akhdan melihat mamanya mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa sendok nasi. Tatapan Akhdan terpencar diseluruh meja makan yang berbentuk persegi panjang. Ia melihat menu-menu kesukaannya yang hanya detemui dirumahnya ini memang hampir semuanya ada. Sayur asem dengan potongan daging kecil-kecil, tempe goreng kering yang diiris-iris, ikan teri dan kacang yang bersambal, beberapa potong daging gepuk goreng, sayur taoge dengan ikan teri dan masih banyak lagi. Betul kata papanya.

Waaah mama nggak salah nih..?” “ ini kan susah cari bahan-bahannya ma?” Keterkejutan Akhdan tak dibuat-buat. Ia tau dijaman ini untuk bisa memperoleh makan olahan seperti ini amatlah langka. Bahkan beberapa tahun belakangan Rumah makan yang berorientasi makanan Sunda seperti ini sudah banyak yang bangkrut karena sulit dan mahalnya harga bahan-bahan bakunya.

Kan papa sudah bilang Dan…, sudah sejak tiga bulan yang lalu papa terpaksa menanam taoge sendiri, menanam kedelai sendiri, mencari ikan teri dan lain-lainnya tuh..begitu tuh mama kamu kalo lagi ada maunya…”

Yaah tapi papa juga kan senang donk mama masak seperti ini, terakhirkan mama masak gini pas lebarana taun lalu ya khan?” sambung mama Akhdan.

Akhdan tertawa geli melihat papanya bersungut sungut.

Dan ini nasinya, ayo..sebelum kita makan karena kamu sudah ada dirumah kamu yang pimpin doa yah…” Lanjut mamanya lagi.

Baik ma..”

Mereka bertiga terlihat mengangkat kedua tangan, dan Akhdan mulai memimpin mengucapkan doa-doa sebagian dalam bahasa Islami dan sebagian dalam bahasa Indonesia.

Setelah selesai mereka mulai santap malam bersama.

Ada yang menarik melihat suasana keluarga Akhdan saat ini. Sebenarnya kebiasaan berdoa bersama di meja makan dulunya lebih banyak dilakukan oleh keluarga Nasrani. Namun mengingat kebiasaan ini adalah kebiasaan yang sangat positif dan baik, sebagai wujud rasa bersyukur dan berterimakasih atas masih diberikannya rejeki dan hidangan berupa makanan dan minuman yang berlimpah, maka tak segan-segan keluarga Akhdan dan keluarga-keluarga yang beragama Islam lainnya mencontoh dan mengikuti tradisi ini, tentu dengan doa-doa secara keyakinan yang Islami.

Di Era tahun 2090 an ini memang pola berfikir kebanyakan orang Indonesia sungguh sudah begitu majunya, toleransi beragama dan keyakinan tidak lagi menjadi penghalang, tapi justru menjadi pengikat yang kuat, dengan masing-masing mengambil hikmah dari contoh dan keteladanan yang positif.

Seperti misalnya Sholat lima waktu. Dulu ditahun-tahun belakangan, masih banyak kaum non Islam yang menganggap bahwa sholat menggangu produktivitas kerja, untuk bermalas-malasan dan lain sebagainya.

Tapi di jaman ini malah sebaliknya, hampir semua orang yang non muslim, setiap harinya mereka telah terbiasa untuk mencontoh berdoa sebanyak lima kali sehari dengan cara-cara dan keyakinan secara non Islami tentunya. Toh apapun ceritanya mereka berfikir berdoa lima kali sehari tetap lebih baik daripada hanya sekali atau dua kali sehari. Selain untuk mendisiplinkan diri dan waktu juga untuk kesejukan berdoa itu dapat menurunkan ketegangan akibat rutinitas hidup yang ada.

Itu hanya contoh, dan masih banyak hal lain yang positif dan dapat diadopsi untuk kebaikan yang tak dapat disebutkan satu persatu.

Dan…kamu ini aneh..” “Orang tuh habis makan kan mustinya relaks gitu…lho kamu kok malah gelisah gitu..?” Papa Akhdan mengusik kesunyian.

Akhdan tersentak, ia memang sedang gelisah. Sambil makan malam tadi, ia memang sambil berfikir apakah sebaiknya rencana Cleon dan Indah yang ditemuinya tadi siang perlu disampaikan sekarang atau tidak. Akhdan takut mengganggu suasan bahagia yang tengah dirasakan Papa dan Mamanya saat ini.

Apa makanan mama mulai nggak enak ya Dan..?” mamanya menimpali.

Oh..nggak kok pa..ma, makanan mama mana ada duanya sih…enak..enuuak banget kok mam..” Jawab Akhdan sekenanya, tapi ia sudah memutuskan.

Aku Cuma ada suatu pekerjaan yang harus aku diskusikan dulu sama papa mama…, tadinya aku fikir nggak tepat sih kalo sekarang…, tapi aku kayaknya gak bisa tidur neh kalo nggak sekarang …”

Oh begitu…, ya sudah..yok kita bicarakan di ruang tamu saja yah biar tenang…” “Kamu percis seperti papa Dan, papa juga nggak suka kalo ada suatu hal tidak langsung dibicarakan ayolah…” Papa Akhdan sungguh sangat bijaksana.

Tanpa menunggu jawaban Akhdan dan mamanya, Pak Putera menggeser kursinya, meletakkan lap makan dan langsung menuju sofa dimana mereka tadi siang duduk bersama Cleon yang sudah pulang sejak sore tadi sebelum hujan turun. Akhdan dan mamanya mengikuti menuju ke ruang tamu.



Hujan diluar rumah masih mengguyur dengan derasnya. Suara rintik-rintik air yang menerpa atap dan tanah seolah suara musik yang mengiringi cerita Akhdan kepada kedua orang tuanya mengenai tawaran yang diajukan Cleon dan Indah.
Akhdan terlihat sangat berhati-hati dalam menyampaikan ceritanya ini, ia takut kedua orang tuanya salah paham dan akhirnya malah tidak menyetujui rencana sahabatnya itu.

Waaah….., papa fikir ide temanmu Indah dan Cleon itu sungguh Briliant sekali Dan…, jelas papa setuju sekali untuk mendukung ide ini..luar biasa anak muda sekarang…” Papa Akhdan memberikan komentar yang sungguh tak diduga Akhdan setelah ia selesai menceritakan semuanya.

Sedangkan mamanya hanya senyum-senyum saja, seolah memiliki bathin yang sungguh dekat dengan suaminya, mama Akhdan yakin bahwa suaminya itu pasti sepemikiran dengannya.

Loh…pa, kalo papa menyetujui aku mengerjakan proyek Cleon dan Indah ini, apa papa nggak takut kalau Pertanian dan Peternakan papa ini bakal terbengkalai dan nggak ada yang ngurusin..?” Akhdan masih tak mengerti.

Ha ha ha…Akhdan-akhdan, kamu boleh saja punya gelar MPE, tapi kamu lihat..bahwa kamu benar-benar nol pengalaman.” “Kenapa papa dan mama takut, justru dengan adanya proyek itu, kalau papa perlu Taoge atau kacang2an kan nggak usah papa lagi yang tanam…ya orang-orang proyek kamulah yang tanam dibawah pengawasan kamu..”

Kan tinggal rubah aja Dan, toh sudah banyak orang yang bersawah menanam padi dan beternak moderen saat ini, ya..begitu proyek kamu jalan untuk membangun kawasan Indonesia Lama, tinggal sawah diganti kebun taoge, atau kacang atau apapun yang mendukung dan peternakan modern papa tinggal kamu jadikan tradisional lagi kan malah jadi penunjang nggak usah susah-susah cari lahan baru, ya nggak” Papa Akhdan menerangkan dengan panjang lebar.

Sedangkan mamanya Akhdan semakin tersenyum lebar, lalu menghampiri suaminya. Sebuah kecupan mesra hinggap di pipi Pak Putera dari isteri tercintanya.

Mama sudah tebak, pasti fikiran papa sama ya khan..?” Anggraeni memeluk mesra suaminya.

Tinggal Akhdan termanggu-manggu sendiri, sejenak ia bangga akan kelulusan gelar Luar Negeri MPEnya, sesaat kemudian ia merasa masih menjadi anak kecil yang baru saja bisa berjalan dihadapan kedua orang tuanya.

Ia sungguh tak pernah membayangkan, bahwa jalan keluarnya begitu sederhana.

Wah..papa dan mama memang aku akui sangat hebat, aku jadi malu nih pa…ma, habis aku terfokusnya papa sama mama pasti bakalan marah neh…makasih ya pa ma” Akhdan menyeringai senang.

Akhdan berdiri dari tempat duduknya, kemudian menghampiri papa dan mamanya. Diciumnya telapak tangan papa dan mamnya bergantian. Papanya berdiri kemudian ketiga anak beranak itu berpelukan bahagia.

Eh pa..ma, aku mo tunjukin Ijazah aku ya..gini-gini anak papa dan mama lulus cumlaude loh, aku nilainya bagus semuanya tuh” Akhdan bicara dengan nada bangga dan ia sudah tidak sabar dari siang ingin menunjukkan hasil jerih payahnya belajar di Australia.

Ya papa dan mama percayalah pasti nilai kamu semuanya bagus, kan waktu kamu diwisuda papa dan mama hadir, papa dan mama bangga sekali kamu terpilih untuk mewakili teman-teman kamu bicara dipodium kelulusan tempo hari, dan tentu papa dan mama yakin kamu pasti memiliki nilai yang paling terbaik yak kan..?”

Sekarang yang penting, apa kamu nggak mau segera hubungi cleon dan Indah untuk memberitahukan khabar persetujuan papa dan mamamu ini?” Lanjut papa Akhdan mengingatkan.

Nggak ah pa..ma, besok aja aku khabarin mereka..biar mereka nebak-nebak semalaman, biar penasaran..rasain lo Cle ha ha ha” Akhdan tertawa senang.

Ah dasar kamu gak henti-hentinya saling jail begitu..ha ha ha” Papa akhdan ikut tertawa.

Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama membayangkan Cleon dengan tubuh tinggi besarnya berguling-guling ditempat tidur menebak-nebak apa gerangan yang akan disampaikan Akhdan tentang rencana besarnya.

Akhdan mengurungkan niatnya untuk mengambil ijazah dan menunjukkan kepada orang tuanya. Ia lebih senang melanjutkan cerita-cerita semenjak kedatangannya dibandara yang dikerjai oleh Cleon hingga sampai saat ini.



Sementara suara hujan diluar yang semakin lebat, tak lagi terdengar menyeramkan ditelinga Akhdan. Suara-suara hujan itu justru seperti suara para malaikat yang ikut tertawa-tawa mengiringi kebahagian dirumah Akhdan dan keluarganya.

Bersambung…

Monday, March 16, 2009

Home Sweet Home 006

0 comments



Suara beep...beep...dari monitor di dasboard mobil Cleon membangunkan Akhdan dari tidurnya. Dengan mata masih setengah terpejam Akhdan melihat tulisan "Bogor-Megapolitan", hanya sekilas kemudian berubah menjadi control panel musik seperti semula.
Rupanya suara itu berasal dari Laser-Line Tol Pintu Bogor yang baru saja dilalui mobil Cleon, tanda mereka telah sampai di Kota Bogor-Megapolitan.

Suara Cleon memecah keheningan. " Woi banguuun..., gile lo tidur kayak orang mati aja, dari mulai jalan sampe Bogor molor mulu...lo". "Mau langsung balik apa mo ke rumah gue dulu neh" lanjut Cleon.

"Ugh..gue langsung balik aja ah..., jam berapa seh ni..?" Secara refleks Akhdan melihat jam di tangan kirinya. Angka digital disitu menunjukkan jam 13.50.

"Masih siang seh.., tapi gue lemes banget neh". "Enakan balik aja deh Cle gue pengen buru2 ketemu bonyok neh.." Lanjutnya lagi.
"Siap tuan.., ngomong-ngomong nyawa lo dah kumpul semua blom?" "Serius neh mo langsung balik...?" Tanya Cle sekali lagi.
"Udaaaah..., buruan ah capek neh gue.."

Cleon tertawa geli tapi tak berkata kata lagi. ditekannya pedal gas yang ada di kemudi mobilnya. Sesaat mobil Cleon melesat di jalur atas jalan tol. Memasuki Kota Bogor kemudian menikung kekiri diatas Jalan Pajajaran yang dipenuhi gedung-gedung bertingkat.

Mereka terus meluncur ke arah Tajur, ke arah Ciawi dan berbelok kearah kanan ke pemukiman Rancamaya Estate.

Orang Tua Akhdan memang tinggal di Perumahan Rancamaya Estate di kaki Gunung Salak yang memiliki udara terkenal sejuk.

Sejak di deklarasikannya wilayah Provinsi Megapolitan yang mencakup Karawang, Bekasi, Jakarta, Tangerang, Depok, Bogor dan Cianjur pada tahun 2019. Hampir seluruh pemukiman perumahan di kota-kota tersebut lebih mengarah ke pinggi-pinggir kota. Sedangkan di areal sekitar kota kota tersebut sudah tidak diperkenankan peruntukkannya bagi perumahan, karena digunakan sebagai central bisnis maupun pelestarian budaya.

Sebagai contoh di daerah kota Bogor-Megapolitan. Semenjak Pusat Pemerintahan Negara mulai di alihkan ke sekitar Sentul Selatan dari Jakarta, secara otomatis pembangunan central bisnis menjamur disekitar kota Bogor. Sehingga perumahan perumahan yang ada di seputar kota dialihkan ke daerah Ciawi, Cicurug, Parung, Cibinong dan sekitarnya.

Sedangkan di seputar Kebun Raya khususnya jalan-jalan lama, tidak diperkenankan untuk dilalui kendaraan apapun kecuali semacam kereta kuda, beca-beca hias dan sepeda roda dua sebagai sarana transportasi wisata.

Kendaraan bermotor seluruhnya melalui jalur atas yang mengelilingi seputar Kebun Raya dan baru memiliki akses jalan turun keluar, diluar areal Kebun Raya Bogor. Antara lain jalan turun keluar ke Jl.Suryakencana, Jl.Pajajaran melingkar ke arah Tanah Baru-Indraprasata-Warung Jambu, jalan turun keluar ke arah Jl. Sudirman dan ke arah Merdeka. Diseputar kota terdapat dua susun jalan raya dengan 4 jalur. Kecuali di arah Jl.Soleh Iskandar terdapat 3 susun jalan, satu jalan utama, dua jalan melingkar kota dan susun ketiga adalah jalan tol yang bisa mengakses tol ke Jakarta lewat Sentul.

Hal ini tidak mengherankan, karena hingga tahun 2090 inipun Kebun Raya Bogor tetap merupakan Kebun Raya Internasional sebagai Pusat Pengkajian Tanaman Dunia, dan kelestariannya sangat di jaga dan dilindungi tidak saja oleh Pemerintah Daerah Provisnsi Megapolitan, Pemerintah Negara bahkan Pemerintah dari Berbagai belahan Dunia.

Bila ditinjau ke arah Puncak, bahkan ditemukan World Zoology. Tempat perlindungan hewan dari berbagai belahan Dunia, yang lokasinya terletak di bekas Taman Safari Indonesia dan saat ini telah memiliki areal yang sangat luas berlipat kali dari sebelumnya. Seluruh hewan tersebut di datangkan dari negara-negara yang memiliki empat musim, untuk melindunginya dari kepunahan akibat ekstreemnya suhu panas dan dingin yang melanda Dunia sejak tahun 2009 imbas dari Global Warming yang semakin parah.





Tanpa terasa kendaraan yang membawa Akhdan dan Cleon memasuki wilayah Rancamaya. Suasana begitu sejuk dan dingin. Hamparan rumput hijau dengan taman-taman membentang dihadapan mereka. Setelah melalui beberapa rumah yang jaraknya agak berjauhan diseberang hamparan padang rumput dan taman itu, Cleon mengarahkan mobilnya kesebuah rumah berwarna cokelat kemerahan. memasuki pintu gerbang yang terbuka lebar dan memarkirkannya di sebelah kiri jalan masuk ke rumah itu.

Seorang pria separuh baya dan seorang wanita yang seumuran dengan pria tersebut, keluar dari pintu rumah itu. Mereka berpelukan dan terlihat mesra, serta melambaikan tangannya ke arah Akhdan dan Cleon. Kelihatannya mereka memang sedang menantikan kedatangan kedua orang itu.

Akhdan terlihat agak tergesa keluar dari mobil, di ikuti Cleon yang terlihat tetap santai. akhdan berjalan di muka menghampiri pria dan wanita itu, sedangkan Cleon menguntit di belakangnya.

"Assalam mualaikum Pa..Ma...", Ucap Akhdan.

"Met Siang Om..., met siang tan...", Cleon menimpali.

Kedua orang tua itu hanya tersenyum dan mengangguk saat Akhdan dan Cleon meraih kedua tangannya lalu menempelkannya dikening mereka secara bergantian, lalu memeluk mereka bergantian untuk melepaskan kerinduan kepada Akhdan dan Cleon.

Papa Akhdan bernama Putera Dharmakesumah, usianya saat ini 52 tahun. Lahir tahun 2038. Saat ia lahir belum ada perundangan mengenai anak negara, sehingga namanya masih menggunakan nama tradisional. Dari namanya terlihat khas, bahwa ia seorang keturunan dari daerah Jawa Barat.

Pekerjaannya saat ini adalah seorang wiraswasta di bidang Agrobisnis terpadu yaitu pertanian dan peternakan. Memanfaatkan gelar Sarjana Pertanian yang diperolehnya dari Institut Pertanian Bogor, bersama isterinya Anggraeni Puspita (mamanya Akhdan) yang kebetulan satu almamater dengannya, mereka berdua bahu membahu mengelola pertanian dan peternakan peninggalan kakeknya Akhdan yang berlokasi di sekitaran Sukabumi dan Cianjur.

Sejak lahir hingga sekarang, keduanya memang tidak pernah beranjak dari Kota Bogor. mereka lahir, besar, berkeluarga hingga memiliki seorang anak tunggal Akhdan, tak terbersit sedikitpun niatan mereka untuk pindah ke Kota lain. Mereka berdua saling cocok untuk hidup tenang di daerah yang sejuk dan asri seperti tempat tinggalnya saat ini, menghindari kebisingan kota besar.

"Kamu berdua pasti capek ya...., ayo masuk dulu...". "Mama udah siapkan minuman dingin tuh dari tadi, namanya juga ibu...mama dari tadi yakin banget, kamu pasti siang-siang sudah ada di rumah...." Anggraeni berbicara kepada Akhdan dan Cleon dengan lembut dan penuh kasih sayang, seraya menarik tangan ke duanya untuk segera masuk ke dalam rumah mereka.

"Ayo..Cle..., kamu pasti capek juga kan seharian ini dikerjai oleh anak ini" timpal papanya akhdan tak kalah ramahnya. Ucapannya ditujukan kepada Cleon.

"Akh...papa neh dari dulu senengnya cuma belain si gendut..jelek ini". "bukan dia yang aku kerjain pa...". "aku neh yang dikerjain dia suruh bengong di Bandara tadi pagi..." Akhdan menengok ke arah Cleon sedikit sewot.

Yang ditengok malah cengegesan, "Nggak om....nggak om, sapa yang ngerjain ya..?" "orang cuma suruh tunggu bentar aja ngomel he he he.." Balas cleon sambil tetap berjalan memasuki rumah dan bicara dengan papanya Akhdan.

Papa dan mama akhdan hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan mereka berdua, mereka sangat maklum akan kedekatan anak mereka dan temannya ini, karena memang mereka sudah tidak asing lagi dengan keduanya masih satu sekolah dulu. Bahkan orang tua Akhdan sudah menganggap Cleon seperti keluarga dan anaknya sendiri.

Rumah yang ditinggali oleh kedua orang tua Akhdan terkesan sangat sederhana dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di kota saat ini. Luasnya tak lebih dari 300 meter berdiri diatas tanah seluas 2000 m2. Meskipun nampak biasa saja dari luar, namun rumah dengan satu lantai, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur, dan 3 kamar tidur dengan masing2 kamar mandi di dalamnya, dan 2 kamar mandi yang terletak di ruang tamu dan ruang keluarga, di buat dari bahan-bahan berkualitas tinggi.

Seluruh lantai yang terbuat dari marmer alam, membuat suasana rumah semakin sejuk dan bersih. Demikian juga dengan furniture yang ada di dalam rumah tersebut, meski tak banyak namun terbuat dari kayu-kayu pilihan. Begitu juga dengan beberapa electronic yang ada seluruhnya tampak lux dan diletakkan dengan sesuai.
Di jaman serba maju ini, memang kualitas dan kebersihan sudah sangat membudaya.







Akhdan melemparkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruang keluarga, rileks. Sementara Cleon duduk disamping kiri yang ada disebelah akhdan gayanya dibuat sesantai mungkin dan tak terlihat ugal-ugalannya.

Putera, papanya Akhdan duduk di samping kanan akhdan berhadap-hadapan dengan cleon. Sedangkan Anggraini, mamanya Akhdan mengarah ke dapur untuk mengambil beberapa gelas minuman dan makanan yang sudah disiapkannya sejak pagi.

Akhdan tak terlalu memperhatikan Cleon dan papanya yang sejak diluar rumah tadi tak berhenti berbincang-bincang. Ia melepaskan sepatunya, lalu merebahkan kepalanya di sandaran sofa panjang dan menekuk kedua kakinya.

Ia sangat menikmati suasana dirumah ini. Diperhatikannya setiap sudut ruang keluarga itu dengan ujung matanya yang terlihat berputar-putar. Tak ada yang berubah sejak setahun lalu ia pulang untuk berlibur. Matanya tertumbuk pada sebuah foto digital yang bergerak-gerak di dinding dekat meja makan, foto digital keluarga yang berukuran cukup besar sekitar 50 x 40 cm.

A
khdan tertarik lalu bangun dari sofa, berjalan melewati tempat dimana papanya duduk, menghampiri foto digital itu.

Diamatinya foto digital itu dengan seksama. Dari kiri kekanan sedang berdiri Papanya menggunakan pakaian tradisional Sunda lengkap dengan bendo penutup kepala, Seorang laki-laki muda berwajah bule juga menggunakan baju adat sunda dan bendo, seorang perempuan muda berkebaya dan sedang menimang seorang bayi, Mamanya juga berkebaya. Dan di hadapannya sedang duduk dikursi Kakek dan neneknya berhadapan juga menggunakan pakaian tradisional. Sedangkan duduk bersila dilantai adalah fotonya sendiri menggunakan baju tradisional dan bendo juga serta tengah menghunus sebatang keris.

Akhdan tersenyum geli ingat saat foto itu dibuat saat hari raya lebaran tahun lalu di rumah kakek dan neneknya di Bandung, saat ia pulang untuk berlibur dan bertemu dengan kakek, nenek dan kakak perempuannya yang baru saja memperoleh seorang bayi perempuan dari suaminya yang bule Australia.

"Pa...kapan foto ini di cetak seh..?". "Kok aku nggak tau..." Rasa penasaran tak kuat ditahannya, dan Akhdan menyeletuk.

"Oh..itu Teh Puteri kamu yang bawa kesini tuh, dia pas ada di Jakarta sama Stanley dua hari lalu jadi sekalian mampir. "Cepat-cepat dia juga cuma minap semalam trus paginya dah harus balik ke Bali lagi.." Papanya Akhdan menjawab celetukan Akhdan.

"Yeeeh...si Teteh mah jahat banget, aku yang minta fotonya suruh kirim ke email malah gak dikirim-kirim, tau-tau dah dicetak dan ada dirumah...ngeselin banget sih.." Akhdan merajuk.

"Yaaah...kamu maklum aja sayang, mungkin teteh kamu itu sibuk sama ponakanmu tuh...". "Lagi pula katanya sengaja buat kejutan kamu kalo kamu dah pulang..."."Makanya dia buru-buru, trus katanya jangan kasih tau kamu dulu, sampe kamu liat sendiri...gitu". Mamanya Akhdan menenangkan. "Oh ya dan...kalo dah dirumah, si Teteh bilang kamu diminta cepetan hubungi dia tuh....." Lanjut mamanya lagi, sambil membawa baki minuman dan meletakkannya di hadapan Cleon.

Akhdan tersenyum, mamanya memang paling pintar menyejukkan hatinya. Dan si teh Puteri ini juga memang paling jago kalo membuat kejutan-kejutan untuk diri dan keluarganya itu.

Hmh jadi kangen juga aku pikir Akhdan, belum lagi bila ingat ponakannya yang masih merah itu ikh gemez.

Ada niat untuk segera menghubungi teteh tersayangnya itu, tapi akh tar aja deh pikirnya masih kangen sama papa mama.

Akhdan kembali menghampiri Cleon, dan papa juga mamanya yang kini ikut duduk di sofa panjang.

Mereka berempat sambil berbincang-bincang bersama dan menikmati hidangan dan minuman yang disajikan mamanya Akhdan, terlihat sangat bahagia.

Begitu juga Cleon meskipun bukan anggota keluarga Akhdan, bila berada di rumah ini ia merasakan kebahagian yang dirasakan Akhdan sahabatnya ini. Hm..pikirnya, memang indah Home Sweet Home.



Bersambung...

Partners